Pages

Rabu, 05 Juni 2013

MY STORY

MEREKA YANG HADIR

             Jakarta.... kalau boleh jujur sejak kecil aku tak pernah memiliki keinginan tuk tinggal di jakarta. Panas, macet, polusi dan banjir. Belum lagi di tambah dengan kekurangan sosial seperti kriminalitas, lingkungan yang buruk, kerusakan moral dan akhlaq . alasan ku kenapa diri ini tak mau tinggal di jakarta.
             Bermula ketika lulusnya aku dari pondok tahfid al qur’an di jogjakarta. Ibu ku – yang kucintai- meminta ku tuk segera meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ku tawarkan kepada ibu sebuah PTS (perguruan tinggi swasta) di jogjakarta, tapi ibu menolaknya. Ibu meminta ku kuliah di LIPIA (lembaga ilmu pengetahuan islam dan arab), untukmu bunda, akan kuberikan jika itu membuat mu bahagia.
             Tiba di ibu kota. Stasiun senen. Ramai.. sesak.. panasnya cuaca.... ku berjalan menuju terminal senin, menaiki bus P20 jurusan lebak bulus – senen yang melewati pejaten, tempat dimnana LIPIA berada. Setelah berkas diserahkan, hanya tinggal menunggu pengumuman. Sebenarnya aku tak begitu khawatir, karena sebelum ke jakarta aku di kenalkan dengan rektor jurusan syariah yang begitu akrab dengan ayah. Aku yang faham karakteristik orang arab, faham bahwa ini lampu hijau.
             Layaknya laki laki, aku tak mau merepotkan kedua orang tuaku dengan beban hidup di jakarta. Aku harus bisa menghidupi diriku sendiri. Ingin rasanya diri ini memiliki penghasilan yang cukup tuk hidup di tengah kerasnya ibu kota. Tak lama, ku di kenalkan oleh salah seorang kawan ku dengan ustad zainal abidin. Seorang ustadz kondang di kalangan kami. Sang ustadz memiliki sebuah pesantren di daerah cibubur, munjul jakarta timur. Kebetulan pesantren yang dibawah asuhan ustadz tersebut membutuhkan guru tahfidz Al – qur’an. Dengan proses yang cepat, aku sudah bisa mulai bekerja. Hingga suatu hari, unit asrama dari pondok tersebut kekurangan personel. Aku diminta ustadz untuk membantu. Aku teringat dengan sebuah hadits yang bermakna “ orang yang belum bisa bersyukur kepada manusia, ia tak akan bisa bersyukur kepada Allah”. Ustadzlah yang telah membantu ku selama ini, yang telah mempercayaiku. Aku terima tawaran tersebut atas dasar bentuk terimakasih ku kepada sang ustadz.
             Ustadz memintaku dan teman teman tuk mengembangkan asrama dari sisi bahasa dan kesantrian (yang di maksud adalah bagaimana seharusnya santri). Aku dan teman teman berusaha mengembangkan. Tapi, orang orang pasti tak semuanya suka terhadap apa yang kita lakukan. Akupun di nilai negative yang pada akhirnya merambat ke arah tidak sehat seperti mencari cari informasi lewat mata mata dan lain lain. Hal itu yang membuatku tak nyaman. Terlebih hal itu dari atasan ku. Sempit rasanya dunia ini. Ku coba lakukan berbgai cara tuk selsai dari himpitan ini. PERTAMA : ku adukan kepada bagian kepagawaian, tapi tidak ada hasil. KEDUA : ku coba menggertak dengan mengadukan surat pengunduran diri, tapi hal itu malah mempercepat peroses resign ku. Anehnya, ustadz kecewa ketika ia tahu aku keluar tanpa proses. Semestinya aku keluar 2 bulan setelah pengajuan surat pengunduran diri. Justru aku yang lebih heran, bukankah kepala yayasan yang menyuruhku keluar dengan cepat. Ini membuat ku yakin kalau banyak miss komunikasi. Setelah keluarnya aku, para santri yang pernah ku asuh merasa kehilangan aku. Dan yang membuatku terharu ketika merek maju ke ustadz zainal untuk memintaku kembali – i wish you all the best my boys – tak sampai disitu mereka menhadiahiku beberapa hadiah.
             Setelah ku keluar dari pondok, orang tua para siswa tak henti hentinya membantuku. Sebut saja ibu barokah. Ibunda fatahilah ali yang selalu mempercayaiku, aku di percaya tuk mengajar adik fatahilah. Fauzan ali. Keluarganya pun begitu ramah, mereka memperlakukan aku dengan baik. Semoga Allah selalu memberkahi kalian wahai keluarga fatah. Yang kedua ibunda hanif rabbani, bu inggit. Ibu inggit memliki 2 putra dan 1 putri di bawah hanif. Ketiga anak ini sangat antusias dengan saya, sehingga ibunda hanif mempercayakan anak anaknya kepada ku. Semoga Allah menjadikan anak anaknya soleh. Kemudian ibu yeni, ibu dari fikri farez zayyaan. Suaminya seorang anggota KOPASSUS ingin belajar bahasa arab. Di usia yang sudah tidak muda, ia memiliki semangat muda bahkan melampui anak muda. Semoga Allah menjaga dan memberikan taufiqNya kepada keluarga ini. Kemudian ada ibu desi, ibunda dari yuka qibran. Kemudian ada ibu mira, ibu dari hanif budi satrio. Sang ibu selalu menyemangati dan memberikan informasi tentang pekerjaan. Kemudian ada ibu marina, ibunda alwi zein. Walau jarang bertemu, tapi ibu marina selalu membantuku. Dan masih ada para orang tua yang belum ku sebut yang pernah hadir dalam hidupku. Mereka bagai orang tuaku.... akan ku bantu semampuku tumbuh kembang putra putra mereka.....
             Selang beberapa bulan, ustadz zainal memanggilku kembali tuk bergabung. Setelah bermusyawarah, kuputuskan tuk menerima tawaran dari ustadz zainal. Semoga ini menjadi awal yang baik.

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar