MEREKA YANG HADIR
Jakarta....
kalau boleh jujur sejak kecil aku tak pernah memiliki keinginan tuk tinggal di
jakarta. Panas, macet, polusi dan banjir. Belum lagi di tambah dengan
kekurangan sosial seperti kriminalitas, lingkungan yang buruk, kerusakan moral
dan akhlaq . alasan ku kenapa diri ini tak mau tinggal di jakarta.
Bermula
ketika lulusnya aku dari pondok tahfid al qur’an di jogjakarta. Ibu ku – yang
kucintai- meminta ku tuk segera meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ku
tawarkan kepada ibu sebuah PTS (perguruan tinggi swasta) di jogjakarta, tapi
ibu menolaknya. Ibu meminta ku kuliah di LIPIA (lembaga ilmu pengetahuan islam
dan arab), untukmu bunda, akan kuberikan jika itu membuat mu bahagia.
Tiba
di ibu kota. Stasiun senen. Ramai.. sesak.. panasnya cuaca.... ku berjalan
menuju terminal senin, menaiki bus P20 jurusan lebak bulus – senen yang
melewati pejaten, tempat dimnana LIPIA berada. Setelah berkas diserahkan, hanya
tinggal menunggu pengumuman. Sebenarnya aku tak begitu khawatir, karena sebelum
ke jakarta aku di kenalkan dengan rektor jurusan syariah yang begitu akrab
dengan ayah. Aku yang faham karakteristik orang arab, faham bahwa ini lampu
hijau.
Layaknya
laki laki, aku tak mau merepotkan kedua orang tuaku dengan beban hidup di
jakarta. Aku harus bisa menghidupi diriku sendiri. Ingin rasanya diri ini
memiliki penghasilan yang cukup tuk hidup di tengah kerasnya ibu kota. Tak
lama, ku di kenalkan oleh salah seorang kawan ku dengan ustad zainal abidin.
Seorang ustadz kondang di kalangan kami. Sang ustadz memiliki sebuah pesantren
di daerah cibubur, munjul jakarta timur. Kebetulan pesantren yang dibawah
asuhan ustadz tersebut membutuhkan guru tahfidz Al – qur’an. Dengan proses yang
cepat, aku sudah bisa mulai bekerja. Hingga suatu hari, unit asrama dari pondok
tersebut kekurangan personel. Aku diminta ustadz untuk membantu. Aku teringat
dengan sebuah hadits yang bermakna “ orang yang belum bisa bersyukur kepada
manusia, ia tak akan bisa bersyukur kepada Allah”. Ustadzlah yang telah
membantu ku selama ini, yang telah mempercayaiku. Aku terima tawaran tersebut
atas dasar bentuk terimakasih ku kepada sang ustadz.
Ustadz
memintaku dan teman teman tuk mengembangkan asrama dari sisi bahasa dan
kesantrian (yang di maksud adalah bagaimana seharusnya santri). Aku dan teman
teman berusaha mengembangkan. Tapi, orang orang pasti tak semuanya suka
terhadap apa yang kita lakukan. Akupun di nilai negative yang pada akhirnya
merambat ke arah tidak sehat seperti mencari cari informasi lewat mata mata dan
lain lain. Hal itu yang membuatku tak nyaman. Terlebih hal itu dari atasan ku.
Sempit rasanya dunia ini. Ku coba lakukan berbgai cara tuk selsai dari himpitan
ini. PERTAMA : ku adukan kepada bagian kepagawaian, tapi tidak ada hasil. KEDUA
: ku coba menggertak dengan mengadukan surat pengunduran diri, tapi hal itu
malah mempercepat peroses resign ku. Anehnya, ustadz kecewa ketika ia tahu aku
keluar tanpa proses. Semestinya aku keluar 2 bulan setelah pengajuan surat
pengunduran diri. Justru aku yang lebih heran, bukankah kepala yayasan yang
menyuruhku keluar dengan cepat. Ini membuat ku yakin kalau banyak miss
komunikasi. Setelah keluarnya aku, para santri yang pernah ku asuh merasa
kehilangan aku. Dan yang membuatku terharu ketika merek maju ke ustadz zainal
untuk memintaku kembali – i wish you all the best my boys – tak sampai disitu
mereka menhadiahiku beberapa hadiah.
Setelah
ku keluar dari pondok, orang tua para siswa tak henti hentinya membantuku.
Sebut saja ibu barokah. Ibunda fatahilah ali yang selalu mempercayaiku, aku di
percaya tuk mengajar adik fatahilah. Fauzan ali. Keluarganya pun begitu ramah,
mereka memperlakukan aku dengan baik. Semoga Allah selalu memberkahi kalian
wahai keluarga fatah. Yang kedua ibunda hanif rabbani, bu inggit. Ibu inggit
memliki 2 putra dan 1 putri di bawah hanif. Ketiga anak ini sangat antusias
dengan saya, sehingga ibunda hanif mempercayakan anak anaknya kepada ku. Semoga
Allah menjadikan anak anaknya soleh. Kemudian ibu yeni, ibu dari fikri farez
zayyaan. Suaminya seorang anggota KOPASSUS ingin belajar bahasa arab. Di usia
yang sudah tidak muda, ia memiliki semangat muda bahkan melampui anak muda.
Semoga Allah menjaga dan memberikan taufiqNya kepada keluarga ini. Kemudian ada
ibu desi, ibunda dari yuka qibran. Kemudian ada ibu mira, ibu dari hanif budi
satrio. Sang ibu selalu menyemangati dan memberikan informasi tentang
pekerjaan. Kemudian ada ibu marina, ibunda alwi zein. Walau jarang bertemu,
tapi ibu marina selalu membantuku. Dan masih ada para orang tua yang belum ku
sebut yang pernah hadir dalam hidupku. Mereka bagai orang tuaku.... akan ku
bantu semampuku tumbuh kembang putra putra mereka.....
Selang
beberapa bulan, ustadz zainal memanggilku kembali tuk bergabung. Setelah
bermusyawarah, kuputuskan tuk menerima tawaran dari ustadz zainal. Semoga ini
menjadi awal yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar