Pages

Rabu, 05 Juni 2013

MY OPINION

PRAHARA SEORANG GURU

           
  Bukan aku sok tau, atau sok pinter atau sok paling bagus. Ini sebuah pengamatan yang ku dapat di lapangan. Tak lain tulisan ini ku maksudkan sebagai koreksian untuk diriku yang paling utama, dan para pembaca.
             Sosok guru yang dahulu kita kenal adalah sosok panutan. Ia memang benar benar pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang dengan hati, mengorbankan waktunya, tenaganya dan keluarganya. Jika para pejuang berjuang dengan senapan, maka tugas para guru menyiapkan para pejuang yang pintar. Jelas, tugas guru lah yang sebenarnya sangat berat. Keberhasilan sebuah bangsa, terletak di pundak para generasi penerus. Generasi penerus membutuhkan para guru untuk menjadikan mereka pemimpin yang bijak.
             Sudah semestinya guru mendapat perhatian istemewa dari pemerintah dan masyarakat. Karena keberadaan guru, bak cahaya bagi mereka. Melalui mereka kita kita bisa mengaji, kita bisa membaca, menulis dan menghitung. Di beberapa negara maju, guru di tempatkan di tempat terhormat. Ambil contoh di negri matahari terbit, JEPANG. Setelah jatuhnya bom di dua kota vital mereka, HIROSHIMA dan NAGASAKI pada tahun 1945, jepang menjadi lumpuh. Hal pertama yang pemerintah jepang lakukan adalah menghimpun seluruh guru untuk menyemangati dan memberikan dorongan moral kepada masyarakat. Dan hasilnya terlihatkan?. Kemudian mari kita tengok negri petro dolar KSA (kingdom of saudi arabia). Kerajaan benar benar menjamin para guru, bahkan kerajaan menjamin pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, guna merentas kebodohan di negri mereka. Kemudian negara negara eropa yang kita saksikan kemajuan mereka. Karena kebodohan adalah pangkal dari kejahatan, keterbelakangan dan kehancuran. Negara yang maju, negara yang menginginkan ketentraman penduduknya, seyogyanya mereka mulai memperhatikan sektor pendidikannya.
             Perhatian kepada pendidikan bukan berarti hanya focus kepada memberikan beasiswa atau membangun sekolahan semata, ada beberapa hal yang harus di perhatikan yang saling bersinambungan satu dengan yang lainnya.
PERTAMA : kurikulum
Jelas negara satu dengan negara yang lain masyarakatnya memiliki kemampuan yang berbeda, karena itu, kurikulum di negara lain tidak bisa disamakan dengan negara yang lain. Kebutuhan negara yang satu dan lainnya saling berbeda. Oleh karenanya kurikulumnya pun harus yang menuju pada pemenuhan negara tersebut. Tak bisa disamakan. Kita ambil contoh ; lihatlah bumi pertiwi indonesia ini, lautan.. hutan dan pertambangan begitu melimpah. Semestinya kita sebagai masyarakat indonesia mampu mengolah segala kekayaan ini. Peran masyarakat dan pemerintah lah yang di perlukan, pemerintah menyediakan beasiswa penuh bagi para mahasiswa yang mau memperdalam ilmu pertambangan, ilmu kehutanan, ilmu bahari, dan lain lain. Agar kekayaan alam kita di kelola oleh anak kita sendiri, bukan orang lain. Peran masyarakat berupa mengarahkan putra putra mereka, memberikan penjelasan kepada putra putra mereka tentang butuhnya negri ini kepada orang orang yang dapat mengelola negri ini.


KEDUA : sarana pra sarana
Jika kurikulum sudah disusun sedemikian bagus, tetapi sarana tidak mendukung, apalah gunanya itu. Gedung sekolah merupakan harga mati. Pemerintah indonesia dalam hal ini sudah bagus dalam upaya membangun sekolah, namun dalam pemeliharaan masih perlu ditingkatkan. selain gedung sekolah, perlu alat alat peraga yang mendukung pembelajaran.

KETIGA : menyiapkan guru yang benar benar guru.
Bagian inilah yang bisa di bilang sulit. Semua orang bisa mengajar, tapi tidak semua orang bisa mendidik. Pendidikan sejatinya adalah penerapan ilmu yang di kuasai pada keseharian yang bermanfaat bagi masyarakat. Apalah gunanya ahli komputer jika ia malah menjadi penjual gorengan. Kemana ilmu yang selama ini dia gali. Apalah gunanya ahli pertambangan jika ia menjadi guru. Inilah yang ku maksud dengan pendidikan. Seseorang mampu berkontribusi untuk kemajuan masyarakat dalam bidang yang ia kuasai. Jika pakar ekonomi menjadi pendidik, tentu sang siswa akan menjadi seperti barang dagangan. Jika guru menjadi direktur bank, tentu ia tak enak hati tuk menagih hutang. Begitulah jika urusan sesuatu diberikan bukan pada ahlinya.
             Dewasa ini, kita dapati permasalahan di dunia pendidikan. Dari mulai kerusakan moral siswa didik dan pendidik itu sendiri. Dari mulai siswa yang tak lagi menghormati guru. Membentak guru, meremehkan guru dan tidak memperhatikan guru. Kerusakan pada pendidik dari mulai kita dengar guru cabul , guru sesat bahkan guru yang mengajar hanya karena uang semata. Ia mengajar tak sepenuh hati, ia mengajar hanya karena ingin mendapatkan gajih. Tentu hal ini bagaikan mata rantai yang terus bersambung. Bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

             Lantas dari mana kita berbenah? Menunggu perintah dari pemerintah? TIDAK !!! kita rubah dari diri kita masing masing. Kita semua ini adalah pendidik, siapapun kita. Dokter, tentara, pengusaha, pemuka agama bahkan pemulung pun. Kita mendidik masyarakat kita. Apa yang kita lakukan adalah pendidikan bagi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan dilihat oleh masyarakat, dari melihat lah mereka belajar. hal ini yang biasa disebut mencontoh. Jadi, mari kita sama sama merubah pendidikan di negri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar