PRAHARA SEORANG GURU
Bukan aku sok tau, atau sok pinter atau sok paling bagus. Ini sebuah pengamatan yang ku dapat di lapangan. Tak lain tulisan ini ku maksudkan sebagai koreksian untuk diriku yang paling utama, dan para pembaca.
Sosok
guru yang dahulu kita kenal adalah sosok panutan. Ia memang benar benar
pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang dengan hati, mengorbankan waktunya,
tenaganya dan keluarganya. Jika para pejuang berjuang dengan senapan, maka
tugas para guru menyiapkan para pejuang yang pintar. Jelas, tugas guru lah yang
sebenarnya sangat berat. Keberhasilan sebuah bangsa, terletak di pundak para
generasi penerus. Generasi penerus membutuhkan para guru untuk menjadikan
mereka pemimpin yang bijak.
Sudah
semestinya guru mendapat perhatian istemewa dari pemerintah dan masyarakat.
Karena keberadaan guru, bak cahaya bagi mereka. Melalui mereka kita kita bisa
mengaji, kita bisa membaca, menulis dan menghitung. Di beberapa negara maju,
guru di tempatkan di tempat terhormat. Ambil contoh di negri matahari terbit,
JEPANG. Setelah jatuhnya bom di dua kota vital mereka, HIROSHIMA dan NAGASAKI
pada tahun 1945, jepang menjadi lumpuh. Hal pertama yang pemerintah jepang
lakukan adalah menghimpun seluruh guru untuk menyemangati dan memberikan
dorongan moral kepada masyarakat. Dan hasilnya terlihatkan?. Kemudian mari kita
tengok negri petro dolar KSA (kingdom of saudi arabia). Kerajaan benar benar
menjamin para guru, bahkan kerajaan menjamin pendidikan gratis bagi seluruh
masyarakat dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, guna merentas
kebodohan di negri mereka. Kemudian negara negara eropa yang kita saksikan
kemajuan mereka. Karena kebodohan adalah pangkal dari kejahatan,
keterbelakangan dan kehancuran. Negara yang maju, negara yang menginginkan ketentraman
penduduknya, seyogyanya mereka mulai memperhatikan sektor pendidikannya.
Perhatian
kepada pendidikan bukan berarti hanya focus kepada memberikan beasiswa atau
membangun sekolahan semata, ada beberapa hal yang harus di perhatikan yang
saling bersinambungan satu dengan yang lainnya.
PERTAMA : kurikulum
Jelas negara satu dengan negara yang
lain masyarakatnya memiliki kemampuan yang berbeda, karena itu, kurikulum di
negara lain tidak bisa disamakan dengan negara yang lain. Kebutuhan negara yang
satu dan lainnya saling berbeda. Oleh karenanya kurikulumnya pun harus yang
menuju pada pemenuhan negara tersebut. Tak bisa disamakan. Kita ambil contoh ;
lihatlah bumi pertiwi indonesia ini, lautan.. hutan dan pertambangan begitu
melimpah. Semestinya kita sebagai masyarakat indonesia mampu mengolah segala
kekayaan ini. Peran masyarakat dan pemerintah lah yang di perlukan, pemerintah
menyediakan beasiswa penuh bagi para mahasiswa yang mau memperdalam ilmu
pertambangan, ilmu kehutanan, ilmu bahari, dan lain lain. Agar kekayaan alam
kita di kelola oleh anak kita sendiri, bukan orang lain. Peran masyarakat
berupa mengarahkan putra putra mereka, memberikan penjelasan kepada putra putra
mereka tentang butuhnya negri ini kepada orang orang yang dapat mengelola negri
ini.
KEDUA : sarana pra sarana
Jika kurikulum sudah disusun
sedemikian bagus, tetapi sarana tidak mendukung, apalah gunanya itu. Gedung
sekolah merupakan harga mati. Pemerintah indonesia dalam hal ini sudah bagus
dalam upaya membangun sekolah, namun dalam pemeliharaan masih perlu
ditingkatkan. selain gedung sekolah, perlu alat alat peraga yang mendukung
pembelajaran.
KETIGA : menyiapkan guru yang benar
benar guru.
Bagian inilah yang bisa di bilang
sulit. Semua orang bisa mengajar, tapi tidak semua orang bisa mendidik.
Pendidikan sejatinya adalah penerapan ilmu yang di kuasai pada keseharian yang
bermanfaat bagi masyarakat. Apalah gunanya ahli komputer jika ia malah menjadi
penjual gorengan. Kemana ilmu yang selama ini dia gali. Apalah gunanya ahli
pertambangan jika ia menjadi guru. Inilah yang ku maksud dengan pendidikan.
Seseorang mampu berkontribusi untuk kemajuan masyarakat dalam bidang yang ia
kuasai. Jika pakar ekonomi menjadi pendidik, tentu sang siswa akan menjadi
seperti barang dagangan. Jika guru menjadi direktur bank, tentu ia tak enak
hati tuk menagih hutang. Begitulah jika urusan sesuatu diberikan bukan pada
ahlinya.
Dewasa
ini, kita dapati permasalahan di dunia pendidikan. Dari mulai kerusakan moral
siswa didik dan pendidik itu sendiri. Dari mulai siswa yang tak lagi
menghormati guru. Membentak guru, meremehkan guru dan tidak memperhatikan guru.
Kerusakan pada pendidik dari mulai kita dengar guru cabul , guru sesat bahkan
guru yang mengajar hanya karena uang semata. Ia mengajar tak sepenuh hati, ia mengajar
hanya karena ingin mendapatkan gajih. Tentu hal ini bagaikan mata rantai yang
terus bersambung. Bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Lantas
dari mana kita berbenah? Menunggu perintah dari pemerintah? TIDAK !!! kita
rubah dari diri kita masing masing. Kita semua ini adalah pendidik, siapapun
kita. Dokter, tentara, pengusaha, pemuka agama bahkan pemulung pun. Kita
mendidik masyarakat kita. Apa yang kita lakukan adalah pendidikan bagi
masyarakat. Karena apa yang kita lakukan dilihat oleh masyarakat, dari melihat lah mereka belajar. hal ini yang biasa disebut mencontoh. Jadi, mari kita sama sama
merubah pendidikan di negri ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar